Teheran, Thiscover.id – Pemerintah Iran menolak keras pernyataan Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau United States Central Command (CENTCOM) terkait serangan rudal terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut klaim CENTCOM yang menyatakan sekolah tersebut berada di dalam fasilitas peluncuran rudal sebagai tuduhan tidak berdasar dan kebohongan besar.
Melalui unggahan di akun X miliknya pada Rabu dini hari, Baghaei mengatakan serangan rudal Tomahawk Amerika Serikat pada 28 Februari lalu menghantam sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh saat jam pelajaran berlangsung.
Serangan itu disebut menewaskan sedikitnya 175 orang, sebagian besar merupakan siswi sekolah dan guru.
Menurut Baghaei, dikutip dari Press TV serangan terhadap fasilitas pendidikan aktif saat jam sekolah merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
“Kebohongan memalukan ini merupakan upaya untuk menutupi kenyataan pahit dari serangan rudal 28 Februari yang menewaskan lebih dari 170 anak sekolah dan guru mereka,” ujar Baghaei.
Investigasi Sebut Sekolah Diduga Sengaja Jadi Target
Pernyataan Iran muncul setelah Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper dalam sidang komite DPR AS menyebut sekolah tersebut berada di dekat pangkalan rudal jelajah aktif milik Garda Revolusi Iran atau IRGC.
Namun, sejumlah investigasi independen disebut menemukan pola serangan rudal presisi yang menghantam area sekolah secara langsung.
Analisis visual oleh CBC News dan citra satelit dari Planet Labs dilaporkan menunjukkan beberapa munisi berpemandu menghantam kompleks sekolah tersebut.
The claim by U.S. Central Command (CENTCOM) that the targeted #Shajareh_Tayyebeh Elementary School in #Minab was located within a "missile launch facility" is a baseless fabrication and an appalling lie.
This shameless distortion is a clear attempt to obscure the severe…
— Esmaeil Baqaei (@IRIMFA_SPOX) May 19, 2026
Mantan pakar penargetan Pentagon, Wes Bryant, bahkan menyebut sekolah itu “jelas sengaja dijadikan target”. Sementara hasil investigasi awal militer AS yang bocor ke publik menyebut penggunaan data target lama menjadi salah satu faktor penyebab serangan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengklaim tanpa bukti bahwa serangan tersebut dilakukan Iran karena dinilai memiliki sistem persenjataan yang tidak akurat.
Beberapa hari kemudian, saat diperlihatkan video rudal Tomahawk AS menghantam lokasi sekolah, Trump mengaku belum melihat rekaman tersebut dan secara keliru menyebut Iran memiliki rudal Tomahawk.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyatakan kepada BBC bahwa “satu-satunya pihak yang menargetkan warga sipil adalah Iran”.
Sejumlah mantan pejabat Amerika Serikat turut mengkritik kurangnya transparansi Pentagon terkait kasus tersebut. Anggota DPR AS Adam Smith menyebut respons Pentagon “menyedihkan dan sama sekali tidak memadai”.
Sementara Senator Partai Republik John Kennedy mengakui kemungkinan adanya kesalahan dalam serangan itu.
“Saya pikir kami melakukan kesalahan. Itu kesalahan yang sangat besar,” ujar Kennedy.
Hingga mendekati tiga bulan sejak serangan terjadi, pemerintah Amerika Serikat disebut belum memberikan pengakuan resmi atas tanggung jawab serangan terhadap sekolah yang memiliki mural anak-anak dan lapangan olahraga tersebut. ***

