GLOBAL  

Menlu Iran Siapkan ‘Kejutan Baru’ Jika AS Agresi Lagi

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto Press TV
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto Press TV

Teheran, Thiscover.id – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya masih memiliki “banyak kejutan” bagi Amerika Serikat jika Washington kembali melanjutkan agresi terhadap Republik Islam Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui unggahan di akun X miliknya pada Selasa. Ia menegaskan Iran akan menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama konfrontasi sebelumnya dengan Amerika Serikat untuk menghadapi potensi serangan baru.

Araghchi juga menyinggung laporan Kongres Amerika Serikat yang disebut mengakui besarnya kerugian militer AS selama konflik 40 hari terakhir dengan Iran.

Menurut laporan tersebut, Angkatan Udara Amerika Serikat disebut kehilangan sedikitnya 42 pesawat dalam serangan balasan Iran, dengan estimasi kerugian material mencapai sekitar 2,6 miliar dolar AS.

Beberapa aset yang dilaporkan hancur atau rusak meliputi empat jet tempur F-15E Strike Eagle, satu F-35A Lightning II, satu A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker, serta puluhan drone tempur MQ-9 Reaper dan MQ-4C Triton.

Laporan itu juga menyebut biaya penggantian jangka panjang diperkirakan dapat melampaui 7 miliar dolar AS karena beberapa sistem persenjataan yang rusak sudah tidak lagi diproduksi dan membutuhkan pembukaan kembali jalur produksi.

Selain itu, hilangnya pesawat peringatan dini E-3 Sentry disebut dapat memaksa Departemen Pertahanan AS menghidupkan kembali program pengganti E-7 Wedgetail dengan biaya lebih dari 2,5 miliar dolar AS.

“Beberapa bulan setelah perang terhadap Iran dimulai, Kongres AS mengakui hilangnya puluhan pesawat bernilai miliaran dolar,” tulis Araghchi.

Ia juga mengklaim Angkatan Bersenjata Iran menjadi pihak pertama yang berhasil menjatuhkan jet tempur F-35 dalam konflik tersebut.

Amerika Serikat dan Israel sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu memicu balasan besar-besaran Iran melalui rudal dan drone yang menyasar target Israel dan aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Konflik tersebut juga mendorong Iran memperketat pengawasan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia.

Langkah Iran itu disebut turut memicu gejolak pasar energi global, termasuk di Amerika Serikat, di tengah kenaikan harga energi yang disebut memengaruhi tingkat popularitas Presiden Donald Trump. ***